Kamis, 26 September 2013

JOKO WIDODO VERSUS AMIEN RAIS


CEC : Pernyataan merendahkan terhadap Gubernur DKI Joko Widodo (jokowi) dinilai sebagai bentuk frustrasi daripada Amien Rais yang dipertontonkan kepada publik. Demikian disampaikan Ketua DPN Repdem, Masinton Pasaribu dalam keterangan yang diterima Tribunnews.com, Rabu (25/9/2013). "Seluruh rakyat Indonesia masih ingat betul rekam jejak politik ambisiusnya Amien Rais sejak pencalonan dirinya sebagai Ketua Umum PP Muhammadiyah tahun 1995 yang dimodali oleh Soeharto," kata Masinton.
Masinton mengatakan Amien Rais pernah meminta uang dari Soeharto sebesar Rp.500 juta, dan Rp.250 juta dari Probosutedjo. Perilaku buruk Amien Rais ini, kata Masinton, dibeberkan oleh Probosutedjo dalam buku 'Habis Manis Sepah Dibuang'. "Tahun 1998 Amien Rais mengklaim sebagai tokoh reformasi. Padahal mahasiswa yang bergerak saat itu tidak pernah mendaulatnya," katanya.
Tahun 1999 menjelang sidang umum MPR, lanjut Masinton, Amien Rais, meminggirkan suara rakyat yang menghendaki Megawati sebagai Presiden. Menurut Masinton, manuver Amien Rais menjegal Megawati dengan menaikkan Gus Dur yang dua tahun kemudian dilengserkan kembali atas manuver busuk Amien. "Latar belakang sebagai akademisi yang terjun ke politik, Amien Rais tidak menampakkan kualitas politik yang mencerdaskan rakyat Indonesia," ujarnya.
Masinton mengatakan sikap politik frustrasi yang dibangun oleh Amien Rais adalah perilaku buruk yang menyesatkan. "Apalagi pernyataan Amin Rais yang menganalogikan Jokowi dengan Joseph Estrada mantan presiden Philipina disampaikan dalam mimbar akademis yang sesungguhnya harus bersih dari noda politik frustrasinya Amien Rais," katanya. (cec)

Sumber : TRIBUNNEWS.COM

Tidak ada komentar: